Langsung ke konten utama

Ilyashidayah,530401800290,.Bsa.A


Biografi Ust Adi Hidayat, Lc., MA.

Ustadz Adi Hidayat, Lc., MA. lahir di Pandeglang, Banten, 11 September 1984 umur 35 tahun adalah seorang 'Alim asal Indonesia yang dapat menguasai isi kitab suci Alquran beserta letak barisnya. Selain itu, ia juga menguasai ilmu hadist dan berbagai kitab agama beserta makna dan posisinya. Pada 2013, Ustaz Adi mendirikan Quantum Akhyar Institute dan tiga tahun berikutnya ia mendirikan Akhyar TV sebagai media dakwah utama. Saat ini Ustaz Adi aktif menjadi narasumber keagamaan baik ta’lim, seminar, dan selainnya. Ia juga aktif menulis dan telah memiliki beberapa karya dalam bahasa Arab dan Indonesia. Ustaz Adi Hidayat memulai pendidikan formal di TK Pertiwi Pandeglang tahun 1989 dan lulus dengan predikat siswa terbaik. Kemudian melanjutkan pendidikan dasar di SDN Karaton 3 Pandeglang hingga kelas III dan beralih ke SDN III Pandeglang di jenjang kelas IV hingga VI. Di dua sekolah dasar ini dia juga mendapat predikat siswa terbaik, hingga dimasukan dalam kelas unggulan yang menghimpun seluruh siswa terbaik tingkat dasar di Kabupaten Pandeglang. Dalam program ini, dia juga menjadi siswa teladan dengan peringkat pertama. Dalam proses pendidikan dasar ini, Adi Hidayat kecil juga disekolahkan kedua orang tuanya ke Madarasah Salafiyyah Sanusiyyah Pandeglang. Pagi sekolah umum, siang hingga sore sekolah agama. Di madrasah ini, dia juga menjadi siswa berprestasi dan didaulat sebagai penceramah cilik dalam setiap sesi wisuda santri. 
Tahun 1997, dia melanjutkan pendidikan Tsanawiyyah hingga Aliyah (setingkat SMP-SMA) di Ponpes Darul Arqam Muhammadiyyah Garut. Ponpes yang memadukan pendidikan Agama dan umum secara proporsional dan telah mencetak banyak alumni yang berkiprah di tingkat nasional dan internasional. Di Ponpes inilah Ia mendapatkan bekal dasar utama dalam berbagai disiplin pengetahuan, baik umum maupun agama. Guru utama dia, Buya KH. Miskun as-Syatibi ialah orang yang paling berpengaruh dalam menghadirkan kecintaan dia terhadap al-Qur’an dan pendalaman pengetahuan. Selama masa pendidikan ini dia telah meraih banyak penghargaan baik di tingkat Pondok, Kabupaten Garut, bahkan Propinsi Jawa Barat, khususnya dalam hal syarh al-Qur’an. Di tingkat II Aliyah bahkan pernah menjadi utusan termuda dalam program Daurah Tadribiyyah dari Univ. Islam Madinah di Ponpes Taruna al-Qur’an Jogjakarta. dia juga sering kali dilibatkan oleh pamannya KH. Rafiuddin Akhyar, pendiri Dewan Dakwah Islam Indonesia di Banten untuk terlibat dalam misi dakwah di wilayah Banten. 
Ustaz Adi Hidayat lulus dengan predikat santri teladan dalam 2 bidang sekaligus (agama dan umum) serta didaulat menyampaikan makalah ilmiah “konsep ESQ dalam al-Qur’an” di hadapan tokoh pendidikan M. Yunan Yusuf. Tahun 2003, dia mendapat undangan PMDK dari Fakultas Dirasat Islamiyyah (FDI) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang bekerjasama dengan Univ. al-Azhar Kairo, hingga diterima dan mendapat gelar mahasiswa terbaik dalam program ospek. Tahun 2005, dia mendapat undangan khusus untuk melanjutkan studi di Kuliyya Dakwah Islamiyyah Libya yang kemudian diterima, walau mesti meninggalkan program FDI dengan raihan IPK 3,98. 
Di Libya, Adi Hidayat belajar intensif berbagai disiplin ilmu baik terkait dengan al-Qur’an, Hadits, Fiqh, Ushul Fiqh, Tarikh, Lughah, dan selainnya. Kecintaannya pada al-Qur’an dan Hadits menjadikan dia mengambil program khusus Lughah Arabiyyah wa Adabuha demi memahami kedalaman makna dua sumber syariat ini. Selain pendidikan formal, dia juga bertalaqqi pada masyayikh bersanad baik di Libya maupun negara yang pernah dikunjunginya. dia belajar al-Qur’an pada Syaikh Dukkali Muhammad al-‘Alim (muqri internasional), Syaikh Ali al-Liibiy (Imam Libya untuk Eropa), Syaikh Ali Ahmar Nigeria (riwayat warsy), Syaikh Ali Tanzania (riwayat ad-Duri). dia juga belajar ilmu tajwid pada Syaikh Usamah (Libya). Adapun di antara guru tafsir dia ialah syaikh Tanthawi Jauhari (Grand Syaikh al-Azhar) dan Dr. Bajiqni (Libya) Ilmu Hadits dia pelajari dari Dr. Shiddiq Basyr Nashr (Libya). Dalam hal Ilmu Fiqh dan ushul Fiqh di antaranya dia pelajari dari Syaikh ar-Rabithi (mufti Libya) dan Syaikh Wahbah az-Zuhaili (Ulama Syiria). dia mendalami ilmu lughah melalui syaikh Abdul Lathif as-Syuwairif (Pakar bahasa Dunia, anggota majma’ al-lughah), Dr. Muhammad Djibran (Pakar Bahasa dan Sastra), Dr. Abdullâh Ustha (Pakar Nahwu dan Sharaf), Dr. Budairi al-Azhari (Pakar ilmu Arudh), juga masyayikh lainnya. Adapun ilmu tarikh, dia pelajari di antaranya dari Ust. Ammar al-Liibiy (Sejarawan Libya). Selain para masyayikh tersebut, dia juga aktif mengikuti seminar dan dialog bersama para pakar dalam forum ulama dunia yang berlangsung di Libya. 
Di akhir 2009 dia diangkat menjadi amînul khutabâ, ketua dewan khatib jami Dakwah Islamiyyah Tripoli yang berhak menentukan para khatib dan pengisi di Masjid Dakwah Islamiyyah. dia juga aktif mengikuti dialog internasional bersama para pakar lintas agama, mengisi berbagai seminar, termasuk acara tsaqafah Islâmiyyah di channel at-tawâshul TV Libya. Awal tahun 2011 dia kembali ke Indonesia dan mengasuh Ponpes al-Qur’an al-Hikmah Lebak Bulus. Dua tahun kemudian dia berpindah ke Bekasi dan mendirikan Quantum Akhyar Institute, yayasan yang bergerak di bidang studi Islam dan pengembangan dakwah. Pada November 2016, dia mendirikan Akhyar TV sebagai media dakwah utama. Kini, Ustadz Adi Hidayat aktif menjadi narasumber keagamaan baik ta’lim, seminar, dan selainnya. dia juga giat mengukir pena dan telah melahirkan karya dalam bahasa Arab dan Indonesia kurang lebih sebanyak 12 karya.
Kerap ditamsilkan, bahwa mimpi, konon sekedar bunga tidur. Namun lebih dari, salah satunya bermula dari mimpi, maka publik Indonesia mutakhir bisa mengenal sosok da'i usia 32 tahun yang cerdas, mendalam, dan banyak jamaahnya: Ustadz Adi Hidayat, Lc, MA. Kok bisa? Saat duduk di bangku kelas 5 SDN, pada kampung halamannya di Pandeglang, Provinsi Banten, Adi suatu hari bermimpi bertemu Rasulullah SAW. Dalam wajah nabiyyuna yang bening dan tersenyum, mimpi pertemuan ini berlansung di mushala ayahnya yang sehari-hari mengajar agama Islam di luar aktivitas kesehariannya. 
"Saya lalu ceritakan ke orang tua, saat itu sebetulnya sudah bersiap masuk SMP negeri favorit dan mereka pun sudah menunggu, SMP 1 Pandeglang. Namun setelah mimpi tersebut, saya dan orangtua bertekad fokus ke agama sehingga setelah SD, enam tahun sampai tamat SMA, meneruskan di Pesantren Darul Arqom, Garut," katanya membuka percakapan setelah mengisi kajian Fikh Ikhtilaf di Mesjid Arrahman, Kota Baru Parahyangan, Kab. Bandung Barat, Jawa Barat, Ahad (23/07/2017).

Bukan satu dua orang, namun lebih dari ratusan orang rela berdiri mendengar ceramahnya. Di selasar depan menuju ruangan utama Mesjid Salman ITB, persis seberang toilet, hingga taman rumput depan mesjid legendaris. Mereka berdiri karena kapasitas utama ruangan sudah terisi, baik untuk jamaah lelaki (ikhwan) maupun perempuan (akhwat). Beruntung, sejumlah layar tambahan, membuat mereka tetap bisa menyimak ceramah Ustadz Adi Hidayat, Ahad (23/7/2017) siang mulai jam 10.00 hingga waktu shalat Dzuhur.

Sebelumnya, di perumahan elit terluas di Bandung Raya, Kota Baru Parahyangan, bahkan sejumlah jamaah sengaja datang dari Bekasi dan Jakarta. Beberapa diidentifikasi penceramah pintar dan kuat ingatan itu sebagai mustami' yang kerap mengikuti kemanapun dirinya mengisi kajian. Tanpa itupun, terutama masyarakat Bandung itu sendiri, penuh sesak hadiri terlihat sejak Ahad dinihari. Untuk parkir mobil saja melimpah sampai ke jalan utama dua baris panjang di sepanjang jalan protokol depan bangunan Bale Barli tersebut.

Dua tenda besar yang disediakan panitia di luar area mesjid tak cukup pula. Mendadak dihamparkan terpal plastik. Minat tinggi tersebut selain untuk ikut Mabit (Malam Bina Iman Takwa) berupa shalat malam dipimpin imam muda hafidz, juga mengejar spot terenak ikuti kajian Ustadz Adi Hidayat dari bada subuh hingga jam 7 pagi. Kisah lain menarik tercatat di Way Halim, sebuah kecamatan di Lampung. Awal mula isi kajian di sana, jamaah hanya 40 orang. Setelah makin tahu dalamnya ilmu, meningkat ratusan orang padahal kapasitas mesjid tak memadai. Setelah direnov, bisa pula menampung hingga 4.000 orang. Ini pun tetap tak cukup.

"Ada sebuah pengajian saya yang bikin macet. Kawan kepolisian bertanya-tanya, lalu masuk ke dalam ingin tahu siapa yang ceramah. Beberapa saat dari itu, si Bapak malah cari peci karena ingin ngaji juga," sambung Adi, seraya tersenyum, di sela sarapan paginya kala itu.

Di Surabaya, kondisi mirip-mirip terjadi. Bahkan, selepas pengajian, sang polisi akhirnya mengawal khusus (voijraider) dari Surabaya ke lokasi pengajian berikutnya di Kota Malang. Dan, ini bukan hanya di dalam negeri. Tahun ini, jadwal isi ceramah sudah tercatat setidaknya di Jepang dan Malaysia. Minat tinggi ini pula yang membuat --kita jadi tak kaget dibuatnya-- sudah 60 hingga 80 jadwal pengajian telah tercatatkan untuk tahun 2018. Di sisa enam bulan penghujung tahun ini, terutama mulai Kamis hingga Ahad, sulit untuk berharap dapat jadwal dadakan dari penceramah lulusan Islamic Call College Tripoli, Libya, dan UIN Sunan Gunung Djati, Bandung tersebut.

Para pencari ilmu agama ini memang bertemu dengan da'i yang juga gila ilmu. Senang belajar, terutama tafsir Al-Quran, sudah dilakoninya jauh sebelum orang mengenalnya sebagai pendakwah sistematis dan ilmiah. Selepas mondok di Garut tersebut, Adi muda sudah peroleh rekomendasi beasiswa ke sebuah perguruan tinggi di Madinah, Arab Saudi. Sayang, insiden bom Bali I tahun 2001 membuyarkan itu karena beasiswa luar kala itu dibatalkan. Tak menunggu lama, sekolah dijalani dulu di UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, selama dua tahun pada jurusan yang kala itu dikerjasamakan dengan universitas sohor asal Mesir, Al-Azhar.

Dua tahun di sana, kembali pada cita-cita menimba ilmu agama di Timur Tengah, ayah dua balita ini akhirnya diterima di Libya. Di sebuah negara, yang menurutnya, sangat baik dalam memberikan pendidikan tinggi. Dari Libya pula, empat negara lain di Timur Tengah tempat bersemayamnya ilmu agama Islam, bisa dijajalnya. Antara lain di Mesir, Arab Saudi, dan Tunisia --bahkan di negara terakhir sampai dievakuasi karena muncul kerusuhan politik domestik, Februari 2011 lalu.

Di Arab Saudi, selain menjadi petugas haji tahun 2010 lalu, dia pun menimba ilmu secara informal di banyak tempat. Yang berkesan tentu saja di Mesir, karena Adi bahkan peroleh kitab Tafsir Al-Quran (bidang pelajaran favoritnya) dari ulama besar Al-Azhar, Seikh Thanthawi Jauhari. Semua pengalaman berharga ini kemudian digenapkan setelah tak lama pulang ke Indonesia, tahun 2012 meneruskan magister Bahasa Arab ke UIN Sunan Gunung Djati, Bandung di kampus pasca-nya yang kala itu berlokasi di Ujung Berung, Kota Bandung.

"Semuanya saya lakukan semata untuk mencari ridho Allah Swt. Saya ingin diri saya diridhoi, ummat diridhoi, bahkan negara pun klo diridhoi, sudah pasti tercapai baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur (negara yang baik dengan Rabb yang Pengampun, red)," katanya.

Prinsip ini yang membuat seorang Adi tak pernah sekalipun sengaja mendesain dari awal agar eksis pada warganet, khususnya di media sosial. Sekalipun kini videonya di Youtube berkisar 3.000 buah, tak ada yang khusus dibuatnya sejak pertama mengisi kajian-kajian sekembalinya ke Indonesia. Menurut dia, jangankan main Youtube, menggunakan akun personalnya sebatas di Facebook/FB pun relatif jarang. Malah dia terkaget-kaget karena pas berselancar di FB dan Instagram belakangan, banyak yang gunakan namanya lengkap dengan gelar dan aneka sematan.

Kalaupun menjadi sangat eksis, itu awalnya karena ada jamaah yang merekam dan merasa kajiannya sangat bagus. Lalu minta izin untuk diunggah, dan banyak yang suka walapun kemudian jadi tak terkontrol. Ceramahnya dibenturkan, dibingkai tak pas, bahkan jadi sumber konflik dengan sesama asatidz, yang sayangnya tak ada saluran komunikasi di antara mereka, sehingga mengesankan Islam yang retak. Maka, Adi pun menggagas Akhyar.tv sejak November 2016 lalu. Tujuannya agar menjadi saluran resmi, sekaligus mengejar visi menjadi media penyiaran Islami, bahkan kalau bisa mengalahkan Youtube kelak.

"Agar luruskan [materi dakwah] lebih utuh, sekaligus memberi keteladan ke televisi lain, bahwa bisa kita bikin televisi dengan tujuan dakwah. Biayanya tak begitu mahal, tapi kru kita dekat dengan Allah Swt karena mereka menjaga shalatnya dan menjaga diri dari maksiat," sambungnya. Akhyar.tv pula yang kemudian memberi banyak kemudahan baginya. Mulai dari bisa meliput di Roudhoh, tempat super maqbul di Mesjid Nabawi, Madinah dan Masjidil Haram, Mekkah, serta streaming dari Jabal Tsur. Sekalipun demikian, seluruh peralatan adalah barang wakaf yang bisa ummat gunakan kelak. Baginya, niat harus tetap terjaga. Godaan popularitas hingga materi sudah pasti terus mengintainya. Alkisah, ada sebuah pengundang dengan banyak jamaah yang tetiba batalkan jadwal karena tempat sudah terlanjur digunakan. Setelah itu, sambung Adi, masuk telepon mengundang ceramah dan sampaikan bahwa kajian paling dihadiri 5-10 orang. Maka disepakati, namun tak lama kemudian pengundang banyak jamaah menelepon lagi dan minta hadir karena sebelumnya hanyamiskomunikasi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAKALAH SEJARAH AGAMA KRISTEN(NILA LAELUL M.)

Sejarah Agama Kristen Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Sejarah Agama-Agama. Dosen Pengampu: Drs. Taufiqul Mu’in, M.Ag. Disusun oleh: Inka puji prastika (53040180053) Nila laelul munasiroh (53040180055) BAHASA DAN SASTRA ARAB FAKULTAS USHULUDIN, ADAB DAN HUMANIORA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA TAHUN 2020 KATA PENGANTAR Segala puji hanya milik Allah SWT. Shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada Rasulullah SAW. Berkat limpahan dan rahmat-Nya kami mampu menyelesaikan tugas makalah ini guna memenuhi Mata Sejarah Agama-Agama. Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang sejarah munculnya agama kristen. yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber informasi, dan referensi. Makalah ini disusun oleh penyusun dengan baik. Dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Allah akhirnya makalah ini dapat terselesaikan. Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi sumbangan...

MAAF INI PENULISNYA SIAPA YA

Kemalasan dapat disebut sebagai keengganan untuk bekerja atau menggunakan energi untuk melakukan suatu aktivitas. Kemalasan seringkali datang dalam bentuk sikap suka menunda-nunda, yang lama-kelamaan bisa berkembang menjadi benar-benar enggan mengerjakan tugas yang menjadi tanggung jawab. Jika rasa malas ini tidak dilawan, tentunya akan membuat sifat ini makin sulit dihilangkan yang berimbas pada menurunnya produktivitas. وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasulnya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakannya  kepadakamu apa yang telah kamu kerjakan. Agama Islam melarang umatnya untuk bermalas-malasan, hal tersebut sesuai dengan surat Al-Insyiroh ayat ke 7-8 فَإِذَا فَرَغ...

Nila Laelul Munasiroh (055) Tentang aku dan covid-19

Nama : Nila Laelul Munasiroh NIM :53040180055 Kelas: BSA B (UTS KEWIRAUSAHAAN) Narasi tentang covid 19 Melihat berita bahwa beberapa sekolah diliburkan hatiku merasa gelisah tak karuan, karena aku sendiri belum mendapat kabar tersebut dari kampusku. Beberapa saat kemudian kabar libur pun datang, awalnya aku merasa senang. Berbondong-bondong untuk kembali ke kampung halaman tanpa memikirkan kabar esok hari yang akan datang. Saat belum ada himbauan, Magelang belum termasuk zona merah. Tapi setelah itu paradoks, semuanya pun menyesuaikan. Ditambah tugas yang terus menerus berdatangan, tugas di luar pemahaman dan kesiapan yang dirasa menyulitkan. Libur karena covid 19 ternyata begini rasanya, covid 19 yang merupakan virus baru yang memiliki gejala seperti penyakit biasa seperti batuk, pilek, pusing, dan lain-lain, membuat kami para pelajar, pekerja, ataupun yang lain harus merasakan libur yang tidak seharusnya kami rasakan. Bagaimana tidak seperti itu? S...