Nama : Nila Laelul Munasiroh NIM :53040180055 Kelas: BSA B (UTS KEWIRAUSAHAAN) Narasi tentang covid 19 Melihat berita bahwa beberapa sekolah diliburkan hatiku merasa gelisah tak karuan, karena aku sendiri belum mendapat kabar tersebut dari kampusku. Beberapa saat kemudian kabar libur pun datang, awalnya aku merasa senang. Berbondong-bondong untuk kembali ke kampung halaman tanpa memikirkan kabar esok hari yang akan datang. Saat belum ada himbauan, Magelang belum termasuk zona merah. Tapi setelah itu paradoks, semuanya pun menyesuaikan. Ditambah tugas yang terus menerus berdatangan, tugas di luar pemahaman dan kesiapan yang dirasa menyulitkan. Libur karena covid 19 ternyata begini rasanya, covid 19 yang merupakan virus baru yang memiliki gejala seperti penyakit biasa seperti batuk, pilek, pusing, dan lain-lain, membuat kami para pelajar, pekerja, ataupun yang lain harus merasakan libur yang tidak seharusnya kami rasakan. Bagaimana tidak seperti itu? Semua sekolah diliburkan bahkan yang waktunya UN pun digagalkan, seluruh perguruan tinggi diliburkan tapi tidak dengan tugasnya dan para pekerja juga turut diliburkan bahkan gajinya pun ikut diliburkan juga. Para petinggi negara menyampaikan pidato sana-sini terkait virus ini. Menghimbau semua rakyatnya untuk berdiam diri dirumah membatalkan kegiatan keseharianya untuk beberapa waktu ini. Kami dihimbau untuk selalu waspada dengan cara rajin cuci tangan setelah melakukan aktivitas apapun dan disuruh memakai masker jika sakit atau saat keluar rumah. Beberapa hari kemudian kabar pasien covid 19 terus bertambah membuat himbuan juga terus bertambah. Himbauan kali ini para perantau tidak dibolehkan untuk pulang kerumah masing-masing, padahal ramadhan segera datang yang artinya para perantau sudah dekat dengan waktu mudiknya. Ah, itu mah dulu bukan sekarang. Pemerintah terus menghimbau kepada masyarakat untuk tetap diam dirumah jangan berada didalam keramaian dulu. Tapi bagaimana dengan aku dan keluargaku? Ibuku sorang pedagang rempah-rempah dipasar, dan ayahku hanya seorang mantan kuli bangunan yang kini hanya bisa berdiam diri dirumah karena penyakitnya. Memang saat dirumah banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan. Dengan orang tua yang tidak paham dengan tugas-tugas yang diberikan para dosen yang tidak akan selesai apabila tidak dikerjakan, yang selalu menasehati untuk tidak berlama-lama dengan handpone dan berdiam diri dikamar, padahal aku sedang berperang melawan tugas-tugas yang harus dikerjakan tanpa adanya pemahaman. Kabar kali ini adalah akan ditutupnya pasar tempat ibuku berjualan selama masa pandemi ini. Kedengaranya menyenangkan tapi tidak dengan kenyataanya. Apa jadinya jika kabar itu benar-benar terjadi? Apa yang harus kita makan selama dirumah aja? Tapi tuhan itu adil, tuhan tahu mana yang terbaik bagi hamba-Nya. Pasar tidak jadi ditutup dan syukurnya omset penjualan tiba-tiba naik drastis, karena memang banyak orang yang mencari beberapa rempah-rempah yang katanya bisa untuk menangkal virus ini, seperti serai, jahe, kunyit, kayu manis, dan lain-lain. Yang tadinya virus ini dianggap musibah tapi jika seperti ini apakah iya tetap musibah? Memang bagi sebagian orang pandemi seperti ini dianggap musibah, sebagian orang lagi mengaggapnya ujian bagi manusia yang lalai terhadap Tuhanya, ada sebagian orang lagi merasa mendapat berkah dibalik kejadian seperti ini. Apapun itu intinya tiada ujian tanpa tujuan, virus ini ada karena kehendak Tuhan dan yang terjadi didalamnya karena kehendak-Nya pula. Omset naik seketika memang enak didengar. Tapi dibalik semua hal yang manis tak lepas dengan hal yang pahit. Lagi-lagi karena virus ini, akses jalan tutup mengakibatkan kami kesulitan mendapatkan barang baru, stok hampir habis sedangkan masih banyak orang yang terus mencarinya alhasil harga barang melambung . setiap pembeli mengeluhkan hal ini, tapi bagaimana lagi? Memang ini kenyataanya. Ini bukan hanya derita pembeli saja namun juga derita penjual juga. Bukankah indah jika kita nikmati bersama? Untung melambungnya harga rempah-rempah tidak setinggi harga masker . harga melambung tinggi ketika banyak orang yang membutuhkan tanpa punya pemasukan. Miris sekali jika dirasakan, tapi ada-ada saja orang yang mempunyai niat jahat disaat seperti ini. Banyak orang yang mau ambil keuntungan dengan cara menipu banyak orang. Orang licik itu memang cerdik. Disaat pandemi seperti ini akses jual beli pasar online ramai sekali, ramai pembeli ramai penjual bahkan ramai penipu. Kita beli dengan uang dan harus bayar tapi yang dikirim barang apa? Dasar liciknya penipu.
Sejarah Agama Kristen Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Sejarah Agama-Agama. Dosen Pengampu: Drs. Taufiqul Mu’in, M.Ag. Disusun oleh: Inka puji prastika (53040180053) Nila laelul munasiroh (53040180055) BAHASA DAN SASTRA ARAB FAKULTAS USHULUDIN, ADAB DAN HUMANIORA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA TAHUN 2020 KATA PENGANTAR Segala puji hanya milik Allah SWT. Shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada Rasulullah SAW. Berkat limpahan dan rahmat-Nya kami mampu menyelesaikan tugas makalah ini guna memenuhi Mata Sejarah Agama-Agama. Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang sejarah munculnya agama kristen. yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber informasi, dan referensi. Makalah ini disusun oleh penyusun dengan baik. Dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Allah akhirnya makalah ini dapat terselesaikan. Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi sumbangan...
Komentar
Posting Komentar